Feeds:
Tulisan
Komentar

Kursus Psikotes

Dari dulu saya heran sama psikolog atau orang dengan latar belakang psikologi yang bersedia “melacurkan” ilmunya dengan membuka lembaga bimbingan psikotes. Di dunia kesehatan bisa jadi itu seperti bimbingan lolos Medical Check Up. Apa ada? Tapi untungnya saya dan tim belum pernah ketemu klien yang ngotot minta dikasih training biar lulus psikotes. Jawaban standar sudah cukup melegakan buat mereka, seperti tidur nyenyak, sarapan, bangun pagi, jangan terlambat dan gak usah belajar karena semua yang dites sudah dipelajari di SD.

Tapi, tiba juga dong saatnya buat kami, tepatnya my partner, Fatriya buat berhadapan dengan salah seorang klien yang dengan cara yang sangat sopan memaksa untuk diberi bimbingan lulus psikotes. Menurut Iya, untungnya dia gak bisa kasih, karena dia bukan dari psikologi. Karena kalau dia bisa kasih, dia sudah gak tahan dengan “rengekan” halus yang membuatnya merasa nggak enak untuk menolak. Sementara saya? Untungnya saya tidak perlu bertemu langsung dengan sang klien. hehe. Walaupun ini diskenario-kan ternyata oleh Iya, supaya tim kami tidak perlu berhadapan dengan moral issu soal gak enak hati vs. etika profesi.

After a long conversation yang cukup melelahkan, Iya sepakat untuk memberikan 1 sesi tentang psikotes kepada klien ini, yang adalah pemilik PJTKI. Begitu Iya deal (deal means sepakat jadwal, bukan harga, because it’s free, hehe, sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa, hiks), ditelponnya lah saya, untuk diskusi tentang topiknya. Basically I believe dia sudah mengerti isinya, tapi sebagai bukan psikolog tentunya dia perlu discuss for more detail. Akhirnya kami sepakat dengan topik seperti yang sudah disepakati di atas.

Intinya sesi ini akan bercerita tentang apa yang disebut sebagai psikotes. Iya akan cerita tentang psikotes (istilah awam) sebenarnya ada 2 kelompok, yaitu kelompok yang punya jawaban benar dan kelompok yang tidak punya jawaban benar, hanya jujur atau tidak jujur. Sesi berjalan, dan seterusnya dan seterusnya. Ditutup dengan tips tentang menghadapi psikotes. Yang intinya adalah sebagai berikut:

1. Bahwa tujuan psikotes adalah mencari yang paling tepat, jadi jangan takut buat gak lolos, karena itu artinya ybs tidak sesuai dengan kualifikasi, yang dalam jangka panjang artinya sooner or later ybs pasti gak kerasan dengan pekerjaannya.

2. Bahwa yang mau dilihat untuk soal-soal yang punya jawaban benar adalah logika dasar, yang semua kurikulumnya sudah diselesaikan di SD, persis ketika usia kita 13. Artinya semua orang pasti bisa. Masalah skor itu lagi-lagi masalah kesesuaian, jadi tenang saja.

3. Satu-satunya cara untuk tahu kisi-kisi psikotes adalah dengan mengingat lagi pelajaran SD. Dan itu pasti bikin males kan? Jadi ketahuilah, bahwa otak yang rileks bekerja dengan lebih baik, terutama menyangkut memori jangka panjang. Inget kan sering kali kita lupa nama orang, semakin diingat semakin lupa, begitu mau tidur, malah ingat? Persis seperti itu. Jadi tenang, have fun, tidur jangan kemalaman, bangun jangan terlambat, SARAPAN itu penting banget, dan datanglah 15 menit sebelum mulai. That really helps.

4. Terakhir, saya tidak menyarankan Anda untuk membeli buku-buku psikotes yang dijual umum di toko buku. Anggaplah sebagian soalnya ada yang sama, anggap saja Anda beruntung, tapi ada banyak hal yang justru menyesatkan pada deskripsi awalnya yang membuat Anda jadi bingung dan akhirnya (biasanya) membuat hasil psikotes kurang optimal.

Sesi berakhir.

Sekitar 2 minggu yang lalu, iya dikabarin peserta sesinya lulus semua dan akan berangkat ke Jepang Insya Allah akhir tahun ini. Alhamdulillah. Ada banyak kan cara sharing psikotes ke orang awam dengan cara-cara yang tidak melanggar kode etik?

Tulisan Sebelumnya »