Tidak ada waktu. Nggak sempat. Pekerjaan numpuk. Harus lembur. Namanya kerjaan, gak habis-habis. Belum sempet dibaca, tadi meeting.
Banyaklah alasan orang untuk meminta maaf atas beberapa hal yang tertunda karena kesibukan di kantor yang masya allah padatnya. Mulai dari bebenah meja kerja, tiba-tiba dipanggil bos diminta transfer uang saku buat anaknya di luar negeri, istri bos yang ulang tahun harus dibeliin black forest, fotokopi materi rapat di gedung sebelah. Masih banyak kalau mau diterusin.
Tapi, apa betul semua aktivitas itu produktif? Pertanyaan pertamanya tentu adalah produktif itu referensi-nya apa? Buat saya, yang paling penting produktif adalah proporsional; proporsional antara aktivitas pribadi dan aktivitas kerja; proporsional antara tugas pokok dan tugas tambahan; proporsional antara kerja dan istirahat. Kunci pertama adalah proporsional. Yang kedua kuncinya, menurut saya adalah directly related; either ke orang bersangkutan atau jabatan/ pekerjaannya. Kalau di luar 2 kunci di atas, atas nama apa pun, bisa digolongkan dalam aktivitas non produktif.
Bagaimana cara mengukurnya? Akan lebih gampang kalau ini melibatkan hasil produksi yang kasat mara tentunya. Berapa koli yang diproses per menit? Berapa spion yang lolos QC per hari? Berapa batang rokok yang berhasil di-packaging? Berapa piece baju yang berhasil disetrika per jam-nya? Nah, sedikit kerja keras dibutuhkan kalau workload analysis akan dilakukan pada pekerjaan-pekerjaan yangg tidak nampak langsung hasilnya.
Tapi bisa kan mbak? Tanya klienku. Bisa dong pak, jawab kami.
Lewat diskusi, studi pustaka dan benchmark, diputuskan akan ada beberapa kelompok aktivitas dengan persentase waktu kerja ; yaitu:
1. Tugas Pokok
2. Tugas Tambahan
3. Personal Allowance
4. Delay + Lain-lain
Soal tugas pokok dan tugas tambahan tentunya jelas kan? Personal allowances juga hak setiap employee. Hitungan kasarnya minimal untuk melepas kelelahan, mengusir kebosanan, mengurangi tingkat stres, panggilan alam; yang kalau dimanfaatkan dengan benar menguntungkan baik bagi individu maupun organisasi. Khusus aspek ke-4, delay, diputuskan setelah melalui observasi intensif mengingat bahwa sebagian aktivitas individu ternyata terkait dengan fasilitas kantor yang minim, lay out ruangan yang kurang ergonomis, antrian tanda tangan atasan yang panjang, dll.
Hasilnya? Tentunya rahasia. Termasuk dalam golongan data confidential. Namun sangat menggambarkan kondisi yang sesungguhnya. Pihak manajemen menyatakan puas atas hasil yang ada karena memang berhasil mendiferensiasi individu yang memiliki kinerja baik dan individu dengan kinerja minim.
Satu lagi effort yang ter-deliver dengan baik. Alhamdulillah.