Anda suka nonton acara masak di TV? Banyak sekali ya bintang memasak di TV kita sekarang ini? Saya ingat sejak jamannya Wok With Yan, yang waktu itu disiarkan di RCTI. Belakangan saya suka gayanya Bara Pattirawane dan Farah Queen. They really love cooking ya? I wonder apakah mereka pernah merasa bekerja setiap kali ada di dapur. They seem really enjoying it.
Satu lagi acara yang lagi (saya yakin) tinggi banget ratingnya adalah Masterchef Indonesia. Saya hobi sekali nonton Masterchef dan Top Chef di TV langganan. Seru. Melihat individu lain bermain-main di jalan yang mengantarkan dirinya ke puncak impiannya. Selalu bisa banyak belajar dari individu yang berjalan tegak menuju mimpinya ya? Saya suka cara mereka saling memberi feedback. Langsung ke makanannya, bukan ke orangnya. Dan orang yang dikasih feedback, juga boleh dengan bangga bilang tidak setuju. Situasi yang sangat dewasa ya?
Oiya. Jadi ke mana-mana deh. Satu lagi yang paling saya ingat dari kompetisi memasak itu adalah. Si head judge-nya, Tom Collichio. Yes, we love him, don’t we? Hehehe.
Saya hampir selalu bisa menebak, setiap kali Tom tidak suka sama makanan tertentu. Begitu ketemu sama Chef yang memasaknya, kalimat pertama yang dia tanyakan adalah,
“Did you taste your food?”
“Apakah tadi kamu mencicipi masakanmu sendiri?”
Menurut Tom, setiap chef perlu mencicipi masakannya sendiri. Lidahnya akan menentukan apakah makanan itu layak disajikan atau tidak ke pemesan. Tidak peduli se-terbatas apa waktunya. Setiap makanan mau dihidangkan, makanan itu wajib dicicipi oleh di pemasak. Jika waktunya terbatas dan di saat akhir, sang Chef menyatakan makanan itu tidak layak. Jauh lebih baik, bagi seorang Chef, menurut Tom, untuk tidak menyajikan masakannya.
Urusannya berbeda Kalau sudah dicicipi, terasa lezat di lidah sang pemasak. Kemudian si pemesan kurang menyukainya. Kemudian ini masalah selera, katanya.
Soal selera, saya ingat kembali sesi-sesi hypoparenting saya. Di dalam kelas, saat menyanyikan lagu-lagu hypnoparenting. Saya bisa merasakan langsung naik turunnya selera para peserta sesi. Di bagian tips-tips teknis, biasanya peserta langsung berbinar matanya. Mencatat dengan tekun. Bertanya. Seru sekali. Kemudian dilanjut dengan pertanyaan-pertanyaan seputar keunikan masing-masing putra-putrinya. Hidangan yang seperti ini biasanya memakan wkatu paling lama memang di sesi saya. Ini mungkin semacam hidangan utamanya, main course. Jadi menikmatinya memang harus lebih lama. Hi, kan memasaknya juga lebih lama.
Sementara hidangan yang lain, hidangan pembuka, istilahnya. Biasanya hanya mengundang sedikit lirikan. Sebagian peserta bersedia mencicipinya. Sementara yang lain lebih suka, menahan diri, menunggu detik-detik hidangan utamanya saja. Hidangan pembuka saya biasanya adalah tentang apa itu NLP, hypnosis serta mengajak para orang tua untuk berselancar ke kedalaman pikiran dan perasaannya masing-masing.
Semacam hidangan pembuka memang. Rasanya gabungan antara ringan, menggoda dan sedikit menantang di lidah. Tujuan utamanya tentu, mempersiapkan lidah para orang tua untuk mencicipi hidangan utamanya. Sering kali pertanyaan tersembunyinya, yang hampir tidak pernah disampaikan, adalah ”untuk apa saya ikut-ikutan dihipnosis, dikulik-kulik pikiran saya, bukankah ini tentang saya menghipnosis anak saya?”
Pertanyaannya tersembunyi dengan indah di belakang lidah memang. Tapi pantulan bunyinya terdengar sampai di hati saya. Orang tua bersedia datang dalam sebuah sesi parenting, untuk menjawab segala tanya tentang bagaimana mengasuh anak. Mereka tidak siap dengan kemungkinan bahwa pertanyaan pertama yang dijawab dalam sesi itu adalah tentang who are they. Orang tua seperti apakah mereka.
Semacam masakan, hypnosis perlu dicicipi. Apalagi NLP, semacam bumbu yang begitu beragam. Setelah mencicipinya, baru kemudian orang tua punya hak untuk memutuskan. Apakah hidangan ini layak disajikan untuk anak mereka atau tidak. Bukankah setiap orang tua menginginkan yang terbaik bagi anaknya? Sekolah terbaik. Baju terbaik. Hidup terbaik. Juga hidangan terbaik. Hidangan apa yang lebih baik dari hidangan yang sudah dicicipi kelezatannya oleh orang tua, diputuskan lezat, kemudian dinikmati dengan riang gembira oleh anak-anaknya?
Serunya, hidangan hypnosis dan NLP ini sekali Anda cocok dengan rasanya. Anda bisa memasaknya untuk siapa saja. Tentunya, di kelas saya, hidangan yang dimasak lebih banyak buat anak-anak. Tentang bagaimana cara berkomunikasi dengan anak-anak. Seringkali, saya juga menyediakan side dishes for free lo. Tentang bagaimana Anda memasak kembali kehangatan hubungan Anda dengan pasangan Anda. Tinggal pakai bumbu hypnosis, langsung lezat. Atau juga tentang bagaimana membangun hubungan baik dengan landasan trust dengan atasan/ bawahan Anda. Bumbunya pas betul. Jadi, sekali kursus masak, Anda langsung bisa memasak buat banyak orang.
Tentu syarat utamanya sama, cicipi dulu hidangannya. Rasakan dulu nikmatnya kebebasan dihipnosis. Nikmati sensasi rasa menjadi tuan atas pikiran dan perasaan sendiri. Seluncuri kedalaman pikiran Anda, tapi pastikan dulu Anda tahu mau ke mana. Setelah mencicipi, baru hidangkan ke orang lain. Anda setuju kan dengan resep keberhasilannya Tom Collichio?
Oiya. Saya juga suka sekali sama Padma Lakhsmi, si host Top Chef. Sudah cantik, bisa memasak, rendah hati pula. Ah, semoga besok Genta berpikir tentang hal itu ya setiap kali melihat foto-foto saya. Saya doakan begitu juga pendapat anak-anak Anda tentang Anda, ibunya. Yok bareng-bareng kita aminkan. A.M.I.N. A.M.I.N. A.M.I.N.
Love, May 2011