“Genta berapa umurnya sekarang?” tanya teman-teman kalau ketemu.
”Lagi lucu-lucunya ya,” sebagian menambahkan.
”Untung Genta ni anaknya anteng ya. Pinter.” Seru yang lain.
Lepas dari kontroversi tentang pintar atau tidak pintar. Anteng atau tidak anteng. Saya hampir tidak pernah menjawab kalau ada teman yang berkomentar seperti di atas. Ngomomongin umur. Namanya orang tua, selain umur anaknya sendiri, mau dijawab berjuta kali juga, nantinya juga lupa lagi. Hahaha. Pengalaman pribadi nih.
Soal lagi lucu-lucunya. Seingat saya namanya anak memang 80% waktu mereka lucu, 20% sisanya adalah ujian bagi kesabaran orang tuanya. Hahaha. Masih pengalaman pribadi. Sementara soal anteng. No comment. Percayalah, kalau Anda mengira Genta 24 jam anteng seperti yang nampak di depan banyak orang. Percayalah. Perkiraan Anda meleset seperti perkiraan cuaca belakangan ini. Jauh meleset.
Sampai kurang lebih umurnya 18 bulan, Genta sungguh anak yang mudah diajak kerja sama. Minum obat, langsung diminum, ga pakai nangis. Dibersihin hidungnya, langsung dia ambil posisi. Makan, lancar. Nangis, hanya dalam kondisi yang memang dia perlu menangis. Merengek, tidak pernah. Sebut deh perilaku yang diidam-idamkan para orang tua, sungguh saya melihatnya muncul pada Genta.
Sekitar usia 18 bulan, sedikit demi sedikit perilakunya berubah. Genta mulai tahu cara meminta dengan merengek. Minum obat, walaupun akhirnya diminuí juga, pakai acara nangis sekarang. Makan sih masih lancar bak jalan tol, namun dia mulai bisa memilih menunya. Dibilang STOP, dia masih coba-coba ngelakuin perilaku yang dilarang itu. Mulai bisa bilang ”ga mau”. Anda yang tersenyum simpul, ngerti kan kira-kira perubahan yang terjadi? Dari bayi yang super mudah tiba-tiba jadi jreeeeeeeng toddler yang mulai punya mau.
Dalam hati saya merasa ”gagal”. Bagaimana ini? Saya, seorang pembicara di bidang parenting, psikolog, katanya hypnotherapist, kok anaknya sampai sulit diatur? Begitu batin saya, awal-awal perilaku Genta berubah.
Saya cari referensi di buku-buku psikologi perkembangan. Saya browsing internet. Saya ngintip blog-nya para ibu-ibu hebat yang sekarang banyak di internet. Saya lakukan segalanya buat cari tahu. INGAT, saya takut gagal sebagai ibu. Muncullah istilah yang sering disebut di hampir semua referensi yang saya baca –the terrible twos.
Terrible twos- menerangkan kondisi anak usia 2-4 tahun yang katanya menyusahkan orang tuanya. Wah. Judulnya kok jelek banget ya? Apa artinya saya perlu menyerah sampai umur 4 tahun nanti, terus tiba-tiba Genta akan berubah lagi jadi anak yang mudah diajak kerja sama? 4 tahun? Lah, 2 tahunnya Genta aja baru nanti Agustus 2011. Belum lagi rencana saya dan ayahnya Genta untuk segera berproduksi lagi. Yipppiiiieeee. Eits, fokus dulu ke Genta ya. Soal produksi itu cerita lain lagi.
Dengan niatan baik, saya terus menelusuri sebab-sebab anak usia Genta menjadi lebih sulit diajak bekerja sama. Gayung akhirnya bersambut. Anak sekitar usia 2 tahun sedang melatih banyak aspek dalam sisi psikologisnya. Genta sedang meng-exercise kemandiriannya. Genta lagi hobi mengobservasi pengaruh dirinya pada lingkungan sekitarnya. Genta sedang melatih kemampuan diplomasinya. In short, menurut saya, Genta sedang meletakkan pondasi bagi kepercayaan dirinya.
JLEB. Langsung berasa tusukannya di ulu hati. Kalau begitu bukan terrible dong? Justru ini salah satu dari sekian banyak fase kritis bagi perkembangan Genta (dan anak-anak lain tentunya).
Aha. Saya memutuskan untuk memakai kacamata « Genta membangun pondasi kepercayaan dirinya » dan bukan Genta memasuki fase terrible twos.
Dengan berganti kacamata saja, tiba-tiba saya merasa lega. Tarikan napas saya terasa lebih enteng. Detak jantung saya melambat setiap kali dengar Genta bilang, “Ndak mau.” Bahkan dalam hati saya merasa sedang tersenyum melihat dia bertahan pada pendapatnya. Jauh jauuuuuuh sekali di kedalaman hati yang hampir tidak ada manusia yang bisa mengintip, saya berbisik mesara pada diri saya sendiri.
“Lihat ksatriamu. Belum ada 2 tahun umurnya. Tapi persistensinya luar biasa. Kemandiriannya sangat membanggakan. Dan kemampuan diplomasinya, tidak bisa diremehkan”
*Hiks. Sambil merasakan gelembung air di mata saya
Dan kemudian perilaku saya pun berubah dalam menghadapi Genta. Yang tadinya berasa jengkel setiap kali dia berbeda pendapat. Kali ini, saya tersenyum simpul di dalam mulut. Hehehe. Tetap konsisten saya dengan ekspresi ketidak-setujuan saya. Efeknya? Genta nampaknya merasakan gelombang energi penerimaan saya. Sehingga Genta pun menjadi lebih terbuka dan siap berdiplomasi. Hehehe. Ini baru namanya anak ngajarin orang tua.
Lagi-lagi dalam hati ada semilir angin. Entah sejuk atau hangat. Namun rasanya nyaman. Dalam semilir angin itu, seperti ada narator berbicara.
“Fan, Fan. You want to have an adult man as your son someday. Ini dia bibitnya sedang berkembang. Pupuk dan siram saja. Itu tugasmu.”
Dengan detak jantung yang mendekati angka 60, saya menarik napas. Fase ini saya sebut sebagai fase the adventorous twos. Because for me and for Genta, ini fase yang menantang jiwa petualang kami. Yipppieeeee.
