Posted in July 2011

Tentang Hukuman Buat Batita


“Kasihan, dek.”

Begitu kata suami saya setiap kali lihat saya mendiamkan Genta yang sedang nangis teriak-teriak. Dalam hati rasanya mau ikutan teriak, “Memangnya saya gak kasihan sama Genta?”

Waktu pertama kali harus membiarkan Genta nangis teriak-teriak, rasanya ya ampuuuun. Sulit terjelaskan. Seperti makan permen Nano-Nano. Permen jaman dulu. Rasanya rame. Segala pikiran menari-nari, dengan wajah licik penuh godaan, seperti sedang menggoda saya untuk berhenti mendiamkan Genta. Padahal, saya melakukannya setelah riset loh. Bener.

Salah satu orang tua dalam sesi hypnoparenting saya juga pernah menyatakan hal yang sama. Kasihan setiap kali lihat anak nangis, mbak. Akhirnya setiap kali nangis, saya dekati, saya peluk, dia diam, berikutnya dia nangisnya makin keras, saya makin ga tega, makin ngalah, terus begitu. Ending-nya, lagi-lagi perilaku yang diharapkan bukannya muncul. Malah makin tenggelam, jauh ke bawah permukaan, seperti uang koin terbawa arus laut lepas.

Tapi, lagi-lagi, ini bukan mendiamkan sembarang mendiamkan lo, ayah, ibu. Ingat prinsip pertama komunikasi kan? Apaaaaa? Yak. Betul!

Komunikasi adalah transfer energi.

Jadi saat mendiamkan pun, Anda harus mengirimkan energi cinta. Gimana caranya? Katakan dalam hati, ini demi kebaikanmu, Nak. Karena tidak ada orang yang suka bicara dengan orang yang membentak-bentak atau berteriak. HATI-HATI. Saat mendiamkan, jangan-jangan Anda malah mengirimkan energi, ini anak bikin jengkel aja seharian, lumayan kalau didiemin, aku bisa cek FB ku sebentar. Walah. *tepokjidat.

Lanjutkan prinsip kedua komunikasi. Masih ingat semuanyaaaa? Hehehe.

Diam pun Anda sedang berkomunikasi.

Ok. Yang mulai lupa sama prinsip-prinsipnya, silakan baca lagi halaman 14. Hehehe. Semuanya ada kok di artikel lama, silakan digeser-geser mousenya ya? Nah, karena diam pun Anda sedang berkomunikasi. Jadi lakukan komunikasi Anda dengan tepat. Kata kuncinya KONGRUEN. JUJUR.

Saat anak Anda teriak-teriak, nangis, karena mau nonton TV padahal sudah waktunya tidur. Atau minta dibeliin mainan Thomas, padahal minggu lalu baru saja beli mainan. Sebenarnya pesan apa yang ingin Anda sampaikan? TIDAK SETUJU. Betul kan ya ayah, ibu? Anda dan saya, tidak setuju dengan keinginannya.

Saya tidak setuju Genta masih nonton TV di atas jam 9 malam. Walaupun jatah 1 jam/ hari nonton TV-nya masih ada. Saya tidak setuju Genta tiduran di lantai kelasnya, saat seharusnya dia duduk, berdiri atau berlari keliling kelas. Saya tidak setuju mengeluarkan uang 10.000 untuk mainan Thomas, yang mampu saya beli, karena pembelian itu tidak punya alasan. Intinya.

Saya tidak setuju.

Jadi, tunjukkan ketidak-setujuan Anda. INGAT. Anda bukan marah. Anda hanya tidak setuju. Bayangkan dalam sebuah meeting, rekan kerja Anda mengeluarkan pendapat yang menurut Anda super konyol dan Anda gak habis pikir gimana ide itu bisa keluar dari mulutnya. Gimana ekspresi Anda? Bukan marah kan? Bukan jengkel kan? Tapi TIDAK SETUJU. Pakai ekspresi itu. Pasang di wajah Anda saat mendiamkan anak Anda. Lalu lakukan aktivitas lain yang Anda perlu kerjakan, sambil tetap lirik-lirik ya aman tidaknya sang buah hati.

Pesan apa yang tertangkap kemudian bu, yah?

Anak paham bahwa “I will not get what I want” dengan cara ini.

Tentunya dia akan menguji hipotesis awalnya. Dengan menaikkan oktaf suaranya. Dengan mengganti gerakannya dengan tendangan, pukulan, segala rupa. Atau juga mengganti lagunya, tangisan sesenggukan, diganti teriakan, diganti panggilan lirih; yang jelas bikin kita kasihan. SABAR bu, yah. Bertahan. Tetap kirimkan energi cintanya. Tetap bayangkan Anda sedang memeluknya. Dan tetap yakinlah bahwa ini cara Anda mencintainya.

Pesan lain yang tersampaikan adalah

I do not get any attention” dengan cara ini.

Kids love spotlight. And O please do give them attention. Please do, parents. Just don’t let them confuse you about attention and manipulation.

Anak di atas usia 2 tahun belajar bahwa mereka bisa mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Lewat apa? Lewat wajah mereka yang lucu, gerakan mereka yang patah-patah, lewat celotehan mereka, juga lewat tangisan. Marah Anda, pelototan mata Anda, omelan Anda adalah perhatian bagi mereka. Dan itu jauuuuuuuh lebih baik bagi mereka dibanding NO attention at all.

Pernah dengar anak yang terus-terusan pakai drugs saat remaja karena mau menarik perhatian orang tuanya? Atau anak yang bolos sekolah supaya malamnya bisa menghabiskan waktu 1 jam dimarahin orang tuanya yang super sibuk? Nah, versi kecil dari remaja di atas adalah si batita penghobi nangis sampai muntah.

Hei, apa saya sudah katakan sebelumnya bahwa mendiamkan sebaiknya bukan strategi pertama yang dipakai menghadapi anak nangis teriak-teriak? YA. Saya ulang ya. Perhatikan ini.

Saya mendiamkan Genta setelah strategi lain kurang efektif.

Ada banyak strategi ngadepin anak-anak seperti itu. Pertama, tentunya ajak bicara. Lakukan beberapa kali, dengan totalitas kongruensi yang tinggi dong. Buat Genta, alternatif pertama ini 90-95% berhasil di banyak kesempatan. Kedua, tetapkan konsekuensi. Saya sih, pilih ambil mainan Genta dan tidak boleh dimainkan sampai keesokan harinya. Biasanya ini pun sudah cukup buat Genta. Ada cara ketiga, keempat, kelima. Ayo, do your own research. Mendiamkan adalah alternatif terakhir saya.

Tapi lagi-lagi, parenting kan gak punya buku manual. Memangnya DVD player? Semuanya tergantung Anda, anak Anda, situasinya, pilihan yang ada dan banyak hal lainnya. You make the call. You make the decision. By the way, you juga yang responsible!

By the way busway, biasanya anak yang mendapatkan perhatian penuh, jiwanya utuh, jarang menunjukkan perilaku nangis-nangis sampai teriak atau muntah. Diakui atau tidak, terserah Anda.

Satu lagi, anak di bawah 2 tahun, jaraaaaaaaang sekali yang paham soal senjata nangis ini. Jadi sebaiknya Anda TIDAK pakai strategi “mendiamkan” ini buat mereka. Anak di bawah 2 tahun menangis for a different reason. You just have to find it.

Seandainya para guru juga paham strategi di atas. Pastinya kelas jadi lebih menyenangkan bagi anak-anak. BERHENTI memberikan perhatian negatif buat anak. Berikan hanya perhatian yang POSITIF.

Itu hasil riset saya. Riset Anda? Sudah riset kan, omong-omong?

*nangis teriak-teriak, bahasa ilmiahnya tantrum

19 July 2011
-masih dalam rangka kasihan sama si Cantik


Tagged , ,

TENTANG BERMAIN

Dalam buku Einstein Never Used Flash Card, saya terkesima dengan fakta yang dibeberkan di salah satu lembarnya. Ini dia faktanya.

Pada tahun 1981, anak menghabiskan 40% waktunya untuk bermain
Pada tahun 1997, anak menghabiskan HANYA 25% waktunya untuk bermain

Lalu ke mana perginya 15% waktu anak untuk bermain itu ya?

Nah, beberapa waktu yang lalu saya sempat mampir ke sebuah ruko di dekat rumah saya. Ceritanya mau ngurus pas foto. Tapi kebetulan juga ada yang jual risoles ajaib di situ, enak memang. Ya tetap aja risol, ga segitu ajaibnya sampai dapat gratis misalnya. Tetap bayar. Tetap risol. Tapi memang enak. Eits. Ok, kembali ke soal pas foto ya?

Sambil nunggu pas foto saya jadi, yang katanya 15 menit itu. Saya nongkrong di mobil sama suami. Genta tidur pulas di car seatnya di kursi tengah. Sekitar 2 menit jaraknya dari rumah, Genta baru mulai tidur. Jadi kasihan kalau harus dibangunkan. Terdamparlah kami berdua, saya dan suami, di dalam mobil, menunggu pas foto kami jadi. Ngobrol sudah pasti. Ngomongin orang lewat, apa lagi. Hehe. Huss.

Salah satu yang menarik perhatian kami adalah banyak anak-anak usia sekolah berkeliaran di ruko itu. Sebagian masih berseragam. Sebagian lagi nampak sudah lebih segar, habis mandi, nampaknya baru berangkat dari rumahnya. Ada yang diantar ibunya, yang dandan cantiiiik sekali. Bikin saya deg-degan, mikirin besok saya harus dandan kalau ngantar Genta sekolah. Ada juga yang diantar sepaket dengan si mbak pembantunya dan tukang ojek langganan.

Oiya. Waktu itu sekitar jam 3-4 sore. Waktu itu saya bilang sama suami saya,
Besok Genta mau diles-lesin kayak begini mas?”
Jawaban dia cukup diplomastis, “Boleh. Selama dia senang ngelakuinnya.”

Bisa jadi ke ruko inilah sebagian dari 15% waktu bermain anak-anak itu melayang. Sekian persen dipakai untuk les di KUM*N. Sekian persen lagi untuk meningkatkan ketrampilan bermusik, les piano, biola, gitar atau drum. Mungkin juga ada yang melayang ke kursus-kursus model, menyanyi, akting; mengejar impian cepat dan mudah. Berserakan juga di lantai kelas aktivasi otak tengah atau kursus-kursus bertajuk –menjadikan anak genius-.

Wow. Remah-remah yang cukup berantakan ya untuk ukuran 15% waktu yang melayang entah ke mana. Walau cuma 15% ternyata remah-remahnya bisa berserakan di banyak tempat kursus.

Saya teringat masa kecil saya di Semarang. Saya bukan anak yang mudah bergaul waktu itu. Kerjaan saya cuma nontonin anak-anak tetangga saya main bareng. Saya? Duduk saja di buk depan rumah, sambil menikmati pemandangan. Saya ingat permainan engklek, gobak sodor, lompat tali, benthik, layangan, bekel, apolo, bentengan, jitung umpet. Sebut saja. Semuanya pernah saya tonton. Hehehe.

Saya bukan contoh anak yang menyenangkan memang. Tapi orang tua saya tidak menyesakkan jadwal yang penuh dalam rutinitas saya sehari-hari. Bahwa saya memutuskan untuk tidak bermain dan hanya menonton. Itu murni keputusan saya dalam menghabiskan waktu luang saya. Hihihi. Pembaca yang dari psikologi kemudian berbisik kan dalam kepala Anda, halah, defence…

Anyway, yang mau saya katakan adalah. Kehilangan 15% waktu bermain bagi anak-anak, artinya juga kehilangan 15% potensi kecerdasan dan kreativitas. Saya yakin Anda pernah mendengar ini sebleumnya. Dunia anak ya bermain itu. Dalam bermain itulah mereka berkawan dengan temuan-temuan hebat sepanjang masa.

Seorang sahabat meng-sms saya minggu lalu. Sahabat yang saya hormati ini mengajukan kekhawatirannya atas jam baca Genta yang berlebihan, menurutnya. Semata-mata karena salah informasi. Beliau salah menterjemahkan Genta Baca Buku, yang adalah rumah baca gratis di garasi saya. Dianggapnya itu berarti saya hanya memperkenalkan Genta dengan buku, bukan dengan alam, flora, fauna, teman-teman sebayanya, lingkungannya, dan lain-lain.

Sebuah kekhawatiran yang berintikan kasih sayang. Hati saya hangat membacanya. Kekhawatiran seorang paman jauh terhadap jam bermain Genta. Beliau mengingatkan bahwa sebaiknya Genta diajak main di alam, bersentuhan dengan angin, hujan, pohon dan pasir. Juga diajak bersapaan dengan teman-teman seusianya. Wow. Sebuah kekhawatiran yang indah. Sebuah harapan supaya Genta tetap memiliki 15% waktu yang berserakan itu untuk bermain.

“Childhood is about making discoveries. And discoveries are not made in a structure environment.”

Saya ingat betul kalimat di atas. Bahkan saya garis dengan spidol hijau di bawahnya. Saya tempeli post-it di pinggir halamannya. Saya lupa kalimat itu ada di halaman berapa di buku Einstein Never Used Flash Card. Tapi jelas kalimat di atas cuma ingin memastikan supaya anak-anak mendapatkan kembali 15% waktu bermainnya. Yang adalah hak yang terabaikan belakangan ini.

So, ayo main pasir lagi, Nak…

12 Juli 2011

Tagged , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 284 other followers