Dalam buku Einstein Never Used Flash Card, saya terkesima dengan fakta yang dibeberkan di salah satu lembarnya. Ini dia faktanya.
Pada tahun 1981, anak menghabiskan 40% waktunya untuk bermain
Pada tahun 1997, anak menghabiskan HANYA 25% waktunya untuk bermain
Lalu ke mana perginya 15% waktu anak untuk bermain itu ya?
Nah, beberapa waktu yang lalu saya sempat mampir ke sebuah ruko di dekat rumah saya. Ceritanya mau ngurus pas foto. Tapi kebetulan juga ada yang jual risoles ajaib di situ, enak memang. Ya tetap aja risol, ga segitu ajaibnya sampai dapat gratis misalnya. Tetap bayar. Tetap risol. Tapi memang enak. Eits. Ok, kembali ke soal pas foto ya?
Sambil nunggu pas foto saya jadi, yang katanya 15 menit itu. Saya nongkrong di mobil sama suami. Genta tidur pulas di car seatnya di kursi tengah. Sekitar 2 menit jaraknya dari rumah, Genta baru mulai tidur. Jadi kasihan kalau harus dibangunkan. Terdamparlah kami berdua, saya dan suami, di dalam mobil, menunggu pas foto kami jadi. Ngobrol sudah pasti. Ngomongin orang lewat, apa lagi. Hehe. Huss.
Salah satu yang menarik perhatian kami adalah banyak anak-anak usia sekolah berkeliaran di ruko itu. Sebagian masih berseragam. Sebagian lagi nampak sudah lebih segar, habis mandi, nampaknya baru berangkat dari rumahnya. Ada yang diantar ibunya, yang dandan cantiiiik sekali. Bikin saya deg-degan, mikirin besok saya harus dandan kalau ngantar Genta sekolah. Ada juga yang diantar sepaket dengan si mbak pembantunya dan tukang ojek langganan.
Oiya. Waktu itu sekitar jam 3-4 sore. Waktu itu saya bilang sama suami saya,
“Besok Genta mau diles-lesin kayak begini mas?”
Jawaban dia cukup diplomastis, “Boleh. Selama dia senang ngelakuinnya.”
Bisa jadi ke ruko inilah sebagian dari 15% waktu bermain anak-anak itu melayang. Sekian persen dipakai untuk les di KUM*N. Sekian persen lagi untuk meningkatkan ketrampilan bermusik, les piano, biola, gitar atau drum. Mungkin juga ada yang melayang ke kursus-kursus model, menyanyi, akting; mengejar impian cepat dan mudah. Berserakan juga di lantai kelas aktivasi otak tengah atau kursus-kursus bertajuk –menjadikan anak genius-.
Wow. Remah-remah yang cukup berantakan ya untuk ukuran 15% waktu yang melayang entah ke mana. Walau cuma 15% ternyata remah-remahnya bisa berserakan di banyak tempat kursus.
Saya teringat masa kecil saya di Semarang. Saya bukan anak yang mudah bergaul waktu itu. Kerjaan saya cuma nontonin anak-anak tetangga saya main bareng. Saya? Duduk saja di buk depan rumah, sambil menikmati pemandangan. Saya ingat permainan engklek, gobak sodor, lompat tali, benthik, layangan, bekel, apolo, bentengan, jitung umpet. Sebut saja. Semuanya pernah saya tonton. Hehehe.
Saya bukan contoh anak yang menyenangkan memang. Tapi orang tua saya tidak menyesakkan jadwal yang penuh dalam rutinitas saya sehari-hari. Bahwa saya memutuskan untuk tidak bermain dan hanya menonton. Itu murni keputusan saya dalam menghabiskan waktu luang saya. Hihihi. Pembaca yang dari psikologi kemudian berbisik kan dalam kepala Anda, halah, defence…
Anyway, yang mau saya katakan adalah. Kehilangan 15% waktu bermain bagi anak-anak, artinya juga kehilangan 15% potensi kecerdasan dan kreativitas. Saya yakin Anda pernah mendengar ini sebleumnya. Dunia anak ya bermain itu. Dalam bermain itulah mereka berkawan dengan temuan-temuan hebat sepanjang masa.
Seorang sahabat meng-sms saya minggu lalu. Sahabat yang saya hormati ini mengajukan kekhawatirannya atas jam baca Genta yang berlebihan, menurutnya. Semata-mata karena salah informasi. Beliau salah menterjemahkan Genta Baca Buku, yang adalah rumah baca gratis di garasi saya. Dianggapnya itu berarti saya hanya memperkenalkan Genta dengan buku, bukan dengan alam, flora, fauna, teman-teman sebayanya, lingkungannya, dan lain-lain.
Sebuah kekhawatiran yang berintikan kasih sayang. Hati saya hangat membacanya. Kekhawatiran seorang paman jauh terhadap jam bermain Genta. Beliau mengingatkan bahwa sebaiknya Genta diajak main di alam, bersentuhan dengan angin, hujan, pohon dan pasir. Juga diajak bersapaan dengan teman-teman seusianya. Wow. Sebuah kekhawatiran yang indah. Sebuah harapan supaya Genta tetap memiliki 15% waktu yang berserakan itu untuk bermain.
“Childhood is about making discoveries. And discoveries are not made in a structure environment.”
Saya ingat betul kalimat di atas. Bahkan saya garis dengan spidol hijau di bawahnya. Saya tempeli post-it di pinggir halamannya. Saya lupa kalimat itu ada di halaman berapa di buku Einstein Never Used Flash Card. Tapi jelas kalimat di atas cuma ingin memastikan supaya anak-anak mendapatkan kembali 15% waktu bermainnya. Yang adalah hak yang terabaikan belakangan ini.
So, ayo main pasir lagi, Nak…
12 Juli 2011
Pengalaman yang menarik mbak. Saya juga prihatin dengan waktu bermain anak yang sekarang tren dikomersialisasikan banyak pihak. Harusnya para ortu yg hobi “membuat anak super hebat” dgn berbagai banyak les, membaca buku The Hurried Child, supaya mereka memberi lebih banyak kesempatan pada anak untuk bermain bebas (bukan bermain dgn Play Station, Online Game, dan sejenisnya).
Sama dengan mbak Fa, saya berusaha berkontribusi thd pendidikan anak-anak Indonesia semaksimal kemampuan saya dengan merancang & membuat mainan-terbuka edukatif untukbayi-balita. Terinspirasi dari fakta yg harus saya hadapi sebagai kakak dgn adik yg pecandu game & otaknya sdh “mengkeret”. Semoga tdk terjadi pada anak-anak Indonesia yg lain.
Sukses untuk Mbak Fa
Iya mbak Ully…
Kalo mikirin yang dilakuin orang di luaran sana buat memanipulasi pola belanja orang tua, memang jadi miris ya mbak.
Tapi saya lebih pilih buat fokus sama yang bisa dilakuin aja mbak.
Biarin deh tetangga beli maenan kereta-keretaan yang harganya hampir 1 juta. Saya sih tetep beli kereta yang 10ribuan. Biar Genta punya kegiatan motorik buat gerakin keretanya, sambil bikin cerita sendiri di benaknya….
Bukan begitu mbak?
owh,, itu tinggal 25% tahun 1997.
bagaimana dengan tahun 2011 ya?
diusahakan tetap minimal di 25% yuk mas…
ajak aja anak atau ponakan Anda main, keluar dari rutinitas les anu les itu..
yuk yuk…
gobak sodor yok…
Yup….setiap aktivitas yg dilakukan si kecil adl bermain..metode belajar sambil bermain menjadi cara yang efektif tanpa harus mengobankan sekian % waktu bermainnya..
Main pasir..?? wah..itu aktivitas serunya duo kecilku tu..sampe’2x sengaja disediakan segunung pasir di halaman samping rumah..hehe..