Posted by

Tweet from TweetCaster

@RonnyFR: Highly Recommended Book utk ilmu Parenting berbasis NLP, Psychology, Hypnosis: Keep The Tiger in the Closet, by @FannyHerdina
Shared via TweetCaster

Tentang Hukuman Buat Batita


“Kasihan, dek.”

Begitu kata suami saya setiap kali lihat saya mendiamkan Genta yang sedang nangis teriak-teriak. Dalam hati rasanya mau ikutan teriak, “Memangnya saya gak kasihan sama Genta?”

Waktu pertama kali harus membiarkan Genta nangis teriak-teriak, rasanya ya ampuuuun. Sulit terjelaskan. Seperti makan permen Nano-Nano. Permen jaman dulu. Rasanya rame. Segala pikiran menari-nari, dengan wajah licik penuh godaan, seperti sedang menggoda saya untuk berhenti mendiamkan Genta. Padahal, saya melakukannya setelah riset loh. Bener.

Salah satu orang tua dalam sesi hypnoparenting saya juga pernah menyatakan hal yang sama. Kasihan setiap kali lihat anak nangis, mbak. Akhirnya setiap kali nangis, saya dekati, saya peluk, dia diam, berikutnya dia nangisnya makin keras, saya makin ga tega, makin ngalah, terus begitu. Ending-nya, lagi-lagi perilaku yang diharapkan bukannya muncul. Malah makin tenggelam, jauh ke bawah permukaan, seperti uang koin terbawa arus laut lepas.

Tapi, lagi-lagi, ini bukan mendiamkan sembarang mendiamkan lo, ayah, ibu. Ingat prinsip pertama komunikasi kan? Apaaaaa? Yak. Betul!

Komunikasi adalah transfer energi.

Jadi saat mendiamkan pun, Anda harus mengirimkan energi cinta. Gimana caranya? Katakan dalam hati, ini demi kebaikanmu, Nak. Karena tidak ada orang yang suka bicara dengan orang yang membentak-bentak atau berteriak. HATI-HATI. Saat mendiamkan, jangan-jangan Anda malah mengirimkan energi, ini anak bikin jengkel aja seharian, lumayan kalau didiemin, aku bisa cek FB ku sebentar. Walah. *tepokjidat.

Lanjutkan prinsip kedua komunikasi. Masih ingat semuanyaaaa? Hehehe.

Diam pun Anda sedang berkomunikasi.

Ok. Yang mulai lupa sama prinsip-prinsipnya, silakan baca lagi halaman 14. Hehehe. Semuanya ada kok di artikel lama, silakan digeser-geser mousenya ya? Nah, karena diam pun Anda sedang berkomunikasi. Jadi lakukan komunikasi Anda dengan tepat. Kata kuncinya KONGRUEN. JUJUR.

Saat anak Anda teriak-teriak, nangis, karena mau nonton TV padahal sudah waktunya tidur. Atau minta dibeliin mainan Thomas, padahal minggu lalu baru saja beli mainan. Sebenarnya pesan apa yang ingin Anda sampaikan? TIDAK SETUJU. Betul kan ya ayah, ibu? Anda dan saya, tidak setuju dengan keinginannya.

Saya tidak setuju Genta masih nonton TV di atas jam 9 malam. Walaupun jatah 1 jam/ hari nonton TV-nya masih ada. Saya tidak setuju Genta tiduran di lantai kelasnya, saat seharusnya dia duduk, berdiri atau berlari keliling kelas. Saya tidak setuju mengeluarkan uang 10.000 untuk mainan Thomas, yang mampu saya beli, karena pembelian itu tidak punya alasan. Intinya.

Saya tidak setuju.

Jadi, tunjukkan ketidak-setujuan Anda. INGAT. Anda bukan marah. Anda hanya tidak setuju. Bayangkan dalam sebuah meeting, rekan kerja Anda mengeluarkan pendapat yang menurut Anda super konyol dan Anda gak habis pikir gimana ide itu bisa keluar dari mulutnya. Gimana ekspresi Anda? Bukan marah kan? Bukan jengkel kan? Tapi TIDAK SETUJU. Pakai ekspresi itu. Pasang di wajah Anda saat mendiamkan anak Anda. Lalu lakukan aktivitas lain yang Anda perlu kerjakan, sambil tetap lirik-lirik ya aman tidaknya sang buah hati.

Pesan apa yang tertangkap kemudian bu, yah?

Anak paham bahwa “I will not get what I want” dengan cara ini.

Tentunya dia akan menguji hipotesis awalnya. Dengan menaikkan oktaf suaranya. Dengan mengganti gerakannya dengan tendangan, pukulan, segala rupa. Atau juga mengganti lagunya, tangisan sesenggukan, diganti teriakan, diganti panggilan lirih; yang jelas bikin kita kasihan. SABAR bu, yah. Bertahan. Tetap kirimkan energi cintanya. Tetap bayangkan Anda sedang memeluknya. Dan tetap yakinlah bahwa ini cara Anda mencintainya.

Pesan lain yang tersampaikan adalah

I do not get any attention” dengan cara ini.

Kids love spotlight. And O please do give them attention. Please do, parents. Just don’t let them confuse you about attention and manipulation.

Anak di atas usia 2 tahun belajar bahwa mereka bisa mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Lewat apa? Lewat wajah mereka yang lucu, gerakan mereka yang patah-patah, lewat celotehan mereka, juga lewat tangisan. Marah Anda, pelototan mata Anda, omelan Anda adalah perhatian bagi mereka. Dan itu jauuuuuuuh lebih baik bagi mereka dibanding NO attention at all.

Pernah dengar anak yang terus-terusan pakai drugs saat remaja karena mau menarik perhatian orang tuanya? Atau anak yang bolos sekolah supaya malamnya bisa menghabiskan waktu 1 jam dimarahin orang tuanya yang super sibuk? Nah, versi kecil dari remaja di atas adalah si batita penghobi nangis sampai muntah.

Hei, apa saya sudah katakan sebelumnya bahwa mendiamkan sebaiknya bukan strategi pertama yang dipakai menghadapi anak nangis teriak-teriak? YA. Saya ulang ya. Perhatikan ini.

Saya mendiamkan Genta setelah strategi lain kurang efektif.

Ada banyak strategi ngadepin anak-anak seperti itu. Pertama, tentunya ajak bicara. Lakukan beberapa kali, dengan totalitas kongruensi yang tinggi dong. Buat Genta, alternatif pertama ini 90-95% berhasil di banyak kesempatan. Kedua, tetapkan konsekuensi. Saya sih, pilih ambil mainan Genta dan tidak boleh dimainkan sampai keesokan harinya. Biasanya ini pun sudah cukup buat Genta. Ada cara ketiga, keempat, kelima. Ayo, do your own research. Mendiamkan adalah alternatif terakhir saya.

Tapi lagi-lagi, parenting kan gak punya buku manual. Memangnya DVD player? Semuanya tergantung Anda, anak Anda, situasinya, pilihan yang ada dan banyak hal lainnya. You make the call. You make the decision. By the way, you juga yang responsible!

By the way busway, biasanya anak yang mendapatkan perhatian penuh, jiwanya utuh, jarang menunjukkan perilaku nangis-nangis sampai teriak atau muntah. Diakui atau tidak, terserah Anda.

Satu lagi, anak di bawah 2 tahun, jaraaaaaaaang sekali yang paham soal senjata nangis ini. Jadi sebaiknya Anda TIDAK pakai strategi “mendiamkan” ini buat mereka. Anak di bawah 2 tahun menangis for a different reason. You just have to find it.

Seandainya para guru juga paham strategi di atas. Pastinya kelas jadi lebih menyenangkan bagi anak-anak. BERHENTI memberikan perhatian negatif buat anak. Berikan hanya perhatian yang POSITIF.

Itu hasil riset saya. Riset Anda? Sudah riset kan, omong-omong?

*nangis teriak-teriak, bahasa ilmiahnya tantrum

19 July 2011
-masih dalam rangka kasihan sama si Cantik


Tagged , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 284 other followers